PROMO CANVA Rp 95.000,00 /BULAN UNTUK 5 ORANG

Serat Jayabaya: Sastra Kuno Peninggalan Kerajaan Kediri

Serat Jayabaya:

Serat Jayabaya – Kediri, sebuah kota di Jawa Timur ini dulunya merupakan pusat pemerintahan sebuah kerajaan maritim Jawa terbesar pada zamannya, Kerajaan Kediri.

Kerajaan ini telah berhasil mempersatukan sebagian besar wilayah Nusantara, Jawa, Jambi, Kalimantan dan Tidore. Mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Bermula dari seorang Airlangga yang memindahkan kepemimpinan Kerajaan Kahuripan dari Kahuripan ke kota Daha, Kediri sekarang, di akhir masa pemerintahannya.

Di sini ia kemudian membagi dua kerajaan akibat perseteruan dua putra mahkotanya, yang satu bernama Kerajaan Panjalu atau Kerajaan Kediri berpusat di Daha, dan satunya Kerajaan Jenggala yang berpusat di Kahuripan.

Masa Sri Jayabaya

Pada masa awal, Kerajaan Kediri tidak diketahui kisahnya, kecuali sebuah prasasti Turun Hyang II tahun 1044 yang menceritakan perang saudara sepeninggal Raja Airlangga.

Barulah pada masa Sri Jayabaya, Kerajaan Kediri mulai memasuki masa keemasannya setelah mengalahkan Kerajaan Jenggala dalam peperangan.

Era keemasan juga terdapat dalam sebuah kronik Cina Ling wa tai tahun 1178 yang menyebutkan bahwa masa itu negeri paling kaya selain Cina adalah Arab dengan Bani Abbasiyah, Jawa dengan Kerajaan Kediri, dan Sumatera dengan Kerajaan Sriwijaya.

Karya Sastra Zaman Jayabaya

Pada zaman Jayabaya ini, seni sastra Jawa mendapat perhatian lebih. Ini terbukti dengan lahirnya beberapa karya seperti Kakawin Bharatayudda karya Mpu Sekah dan Mpu Panuluh pada tahun 1079 Saka atau 1157 Masehi.

Karya ini mengisahkan perang saudara yang dimengangkan Pandawa atas Korawa, sekaligus sebagai kiasan kemenangan Kediri atas Jenggala.

Karya-karya lainnya pada masa Jayabaya adalah Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Ghatotkachasraya.

Baca Juga :

Serat Jayabaya: Sastra Kuno Dari Raja Jayabaya

Namun yang paling diingat orang tentu saja karya Raja Jayabaya sendri yang dkenal dengan Serat Jangka Jayabaya (atau Serat Jayabaya).

Karya ini diketahui setelah adanya Kitab Musarar yang digubah oleh Sunan Giri Prapen pada tahun Saka 1540 / 1028H / 1618M.

Dalam bait pertama kitab ini terdapat kalimat, “Kitab Musasar dibuat takala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani”

Setelah masa Gunung Giri Prapen ini, beberapa pujangga kemudian muncul menuliskan Serat Jayabaya.

Serat pertama dan dipandang asli dan jadi rujukan hingga kini adalah dari buah karya Pangeran Kadilangu II yang dikarangnya tahun 1666-1668 Saka atau 1741-1743 M.

Di kalangan Masyarakat Jawa khususnya, serat Jayabaya ini kemudian dijadikan sebagai rujuan dalam melihat kejadian yang akan datang.

Beberapa kejadian misalnya terbukti ada dalam bait-bait dalam Serat Jayabaya tersebut.

Contohnya adalah munculnya Presiden Sukarno yang telah diramalkan dalam bait tersebut sebagai seorang putra dari ibu yang berasal dari Pulau Dewata (Bali).

Syair Dalam Serat Jayabaya

Beberapa tulisan dalam Serat Jayabaya menuliskan beberapa syair yang mengkondisikan kejadian saat ini secara tepat antara lain:

  • Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran – Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
  • Tanah Jawa kalungan wesi – Pulau Jawa berkalung besi.
  • Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang – Perahu berlayar di luar angkasa.
  • Kali ilang kedhunge – Sungai kehilangan lubuk.
  • Pasar ilang kumandhang – Pasar kehilangan suara.
  • Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak – Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
  • Bumi saya suwe saya mengkreket – Bumi semakin lama semakin mengerut.
  • Sekilan bumi dipajeki – Sejengkal tanah dikenai pajak.
  • Jaran doyan mangan sambel – Kuda makan sambel.
  • Wong wadon nganggo pakeyan lanang – orang perempuan berpakaian lelaki.

Dan banyak lagi..Serat Jayabaya juga menyindir tentang Satrio Pininggit, Ratu Adil, atau Imam Mahdi.

Meski begitu, serat ini merupakan sastra yang sangat berharga untuk terus dipelajari dan ditelaah oleh kita dan generasi yang akan datang, lepas dari itu mitos atau keyakinan percaya atau tidak.

Demikianlah informasi mengenai Serat Jayabaya: Sastra Kuno Peninggalan Kerajaan Kediri. Semoga bermanfaat 🙂