Hamster Syrian

Mengenal Hamster Syrian Yang Lucu Dan Imut

Diposting pada

Hamster Syrian atau di kenal juga sebagai hamster emas adalah salah satu hamster yang cukup populer di Indonesia.

Memiliki nama latin Mesocricetaus auratus dan menjadi anggota sub keluarga Cricetinae.

Sesuai dengan namanya, hamster ini memiliki habitat asli di bagian utara Suriah/Syria tepatnya di sekitar kota Allepo yang saat ini tengah bergejolak.

Hamster Syrian

Hamster

Hamster Syrian pertama kali ditemukan oleh seorang zoologi Inggris bernama George Robert Waterhouse pada tahun 1839.

Baca Juga :

Spesimen kulit hamster yang pertama ini hingga sekarang masih tersimpan di museum sejarah alam London.

Riset Hamster Syrian

Riset Hamster Syrian

Pada tahun 1930 seorang profesor dari Universitas Ibrani Yerusalem yaitu Israel Aharoni menangkap beberapa induk hamster di Aleppo.

Hewan ini kemudian menjadi obyek riset di laboratorium. Namun sayangnya beberapa ekor diantaranya lepas kemudian berkembang biak.

Dipercayai hamster hamster tersebut menjadi nenek moyang hamster emas yang saat ini ada di Israel.

Sedangkan sebagian keturunan lainnya yang lahir di laboratorium Universitas Ibrani kemudian dikirim ke Inggris untuk di teliti di Wellcome sebuah Biro Riset ilmiah.

Penelitian itu berjalan dengan sukses dan dua pasang diantaranya dihibahkan kepada Zoological Society of London di tahun 1932.

Keturunan tersebut kemudian dikembang biakkan oleh para peternak swasta.

Pada tahun 1971 sekelompok hamster diekspor langsung dari Suriah ke Amerika Serikat untuk diternakkan akan tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa semua hamster yang berada di Amerika saat ini tidak ada satupun yang memiliki kesamaan mitokondria dalam DNA dengan hamster yang dibawa pada tahun 1971.

Dugaan kuat bahwa hamster Syrian di Amerika adalah hamster yang diturunkan oleh satu betina yang ditangkap pada tahun 1930.

Untuk mendalami perilaku hamster Syrian, maka dilakukanlah sebuah penelitian ulang di alam liar.

Para peneliti menangkap dan mengumpulan hamster emas liar di bagian utara Suriah dan selatan Turki pada bulan September tahun 1997 dan Maret 1999.

Para peneliti memetakan ulang 30 liang hamster liar. Dari seluruh liang tidak ditemukan satu ekorpun hamster dewasa. Tim peneliti berhasil menangkap enam betina muda dan tujuh jantan remaja. Satu betina diantaranya dalam kondisi hamil dan akhirnya melahirkan 6 ekor bayi hamster.

19 ekor hamster tersebut bersama dengan 3 hamster liar hibah dari universitas Aleppo akhirnya dikirim ke Jerman untuk dikembang biakkan.

Hasil riset laboratorium menunjukkan bahwa hamster liar dan hamster hasil penangkaran memiliki aktifitas yang berbeda.

Hamster di alam liar akan berwarna gelap dan kusam di malam hari untuk menghindari dari serangan predator seperti kucing dan burung hantu.

Riset ini juga menyatakan bahwa hamster sensitif terhadap suhu dan dapat merubah warna bulunya menjadi lebuh kusam utnuk menghindari panas yang ekstrim di siang hari dan suhu dingin di malam hari.

Dalam sehari hamster Syrian dapat berjalan sejauh 2 hingga 5 mil dalam 24 jam. Mereka juga dapat menyimpan makanan sebanyak satu ton sepanjang hidupnya,

Hamster juga termasuk hewan yang cerdas, mampu memisahkan tempat menyimpan makanan dan kotoran di dalam sarang.

Hamster yang berusia tua ternyata berperilaku cukup menarik, mereka menggunakan air urine untuk merendam biji bijian yang keras agar mudah di buka.

Hamster juga diketahui rajin membersihkan sisa makanan di dalam sarang dan membuangnya keluar.

Apabila menemukan sumber makanan, maka hamster akan mengosongkan seluruh isi mulutnya agar dapat mengangkut makanan baru sebanyak banyaknya hingga mulutnya tidak bisa mengatup. Sungguh menarik bukan?